ASAHAN // Bongkarterkini24.com — Sebuah tragedi memilukan mencoreng potret pelayanan kesehatan di Kabupaten Asahan, Sumatra Utara. Seorang bocah perempuan berusia 7 tahun bernama Yasmin Nazwa Munibah meninggal dunia di ruang rawat inap RSUD H. Abdul Manan Simatupang (HAMS) Kisaran, Senin (2/11/2026).
Pihak keluarga korban meluapkan kemarahan dan kekecewaan mendalam, menduga kematian putrinya diakibatkan oleh kelalaian dan lambatnya respons tenaga medis saat kondisi korban sudah berada dalam fase kritis.
Menurut keterangan ayah korban, Irfansyah, kondisi kesehatan Yasmin mulai memburuk hingga tahap sekarat sejak pukul 10.00 WIB pagi. Namun, alih-alih mendapatkan tindakan penyelamatan darurat, ia dan keluarganya justru dihadapkan pada birokrasi penanganan yang kaku. “Anak saya sudah sekarat di depan mata saya. Saya minta tolong, tapi tidak ada tindakan. Tidak dibawa ke IGD, tidak ada alat bantuan, jawaban perawat hanya ‘tunggu dokter’ sampai anak saya akhirnya meninggal,” ucap Irfansyah dengan nada bergetar.
Kemarahan keluarga semakin memuncak ketika mereka mengetahui fakta mengejutkan sesaat sebelum Yasmin menghembuskan napas terakhirnya. Dokter jaga yang sedari tadi ditunggu-tunggu—diketahui berinisial dr. A—ternyata berada di rumah dinas yang jaraknya hanya sekitar 10 meter dari kamar rawat inap pasien. “Di saat anak saya emergency, dokternya ada di rumah dinas hanya beberapa meter dari kamar, tapi tak kunjung datang. Di mana tanggung jawab pihak RSUD HAMS Kisaran?” tegasnya dengan penuh kepedihan.
Menanggapi insiden memilukan ini, Irfansyah dengan tegas meminta agar Bupati Asahan segera turun tangan melakukan evaluasi total terhadap manajemen dan Direktur RSUD HAMS Kisaran. Ia menyatakan bahwa langkah bersuara ini diambil bukan sekadar melampiaskan duka, melainkan demi memastikan tidak ada lagi warga kecil yang menjadi korban berikutnya akibat buruknya standar tanggap darurat rumah sakit. “Cukup saya dan keluarga yang jadi korban. Jangan sampai ada anak-anak lain yang membutuhkan pertolongan darurat diperlakukan seperti ini,” pungkasnya.
Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak manajemen melalui Direktur RSUD HAMS Kisaran belum memberikan pernyataan resmi atau tanggapan saat dikonfirmasi oleh awak media terkait dugaan kelalaian medis tersebut. Ketiadaan klarifikasi cepat dari pihak rumah sakit dikhawatirkan dapat memperkeruh suasana dan memicu keresahan publik yang kian menuntut transparansi, akuntabilitas, serta perbaikan menyeluruh pada sistem pelayanan kesehatan daerah.
( Heri Setiadi )
