Mengubah Membaca Menjadi Karya: KKN-T Unhas Hadirkan Aksi Literasi Berkarya di SDN 05 Tarowang Jeneponto 

JENEPONTO l Bongkarterkini24.com — Suasana di SDN 05 Tarowang, Dusun Kanang-Kanang, Desa Tino, kabupaten Jeneponto tampak lebih hidup dari biasanya Pada Jumat (24/7/2026)

Para siswa tidak sekadar duduk mendengarkan dongeng, melainkan diajak menyelami dunia cerita lalu mengubah imajinasi mereka menjadi sebuah karya visual. Kehadiran Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin melalui program “Aksi Literasi Berkarya” sukses menyulut antusiasme dan kreativitas para siswa setempat.

Mengusung tema Membuat Isi Buku Cerita, program inovatif ini dirancang untuk mendobrak gaya belajar konvensional. Mahasiswa tidak hanya menempatkan membaca sebagai aktivitas pasif, tetapi memadukannya secara langsung dengan ekspresi seni. Langkah ini diambil untuk membuktikan bahwa memahami alur sebuah buku bisa dilakukan dengan cara yang seru, interaktif, dan berdampak nyata bagi tumbuh kembang anak.

Rangkaian kegiatan dimulai dengan sesi membaca buku cerita anak secara bersama-sama yang dipandu langsung oleh para mahasiswa. Usai membaca, suasana kelas berubah menjadi ruang diskusi yang hangat. Anak-anak diajak membedah cerita secara sederhana—mengenal siapa tokohnya, memahami latarnya, merajai alurnya, hingga memetik pesan moral yang tersirat di dalamnya secara kritis namun santai.

Tak berhenti pada pemahaman teks, setiap siswa kemudian diberi kebebasan penuh untuk menuangkan imajinasi mereka ke atas kertas. Mereka menggambar karakter favorit atau adegan yang paling berkesan sesuai dengan pemahaman masing-masing. Puncaknya, dengan penuh percaya diri, para murid berdiri di depan kelas untuk mempresentasikan hasil karya gambar mereka sekaligus menceritakan ulang pesan yang mereka tangkap di hadapan teman-temannya.

Pendekatan ini dinilai efektif dalam mengukur sekaligus merangsang pemahaman siswa.

Salah satu mahasiswa KKN-T Literasi Desa Tino mengungkapkan bahwa kombinasi antara membaca dan menggambar mampu membuka potensi tersembunyi anak-anak.

“Melalui menggambar, anak-anak dapat mengekspresikan pemahaman mereka terhadap isi cerita secara kreatif.

Kami melihat mereka tidak hanya mampu mengingat alur cerita, tetapi juga berani menyampaikan hasil karyanya di depan teman-teman,” terangnya.

Meski demikian, keberhasilan program ini tentu memicu perhatian terkait keberlanjutannya di sekolah. Kehadiran mahasiswa KKN yang relatif singkat menjadi momentum penting, namun konsistensi budaya membaca kreatif di masa depan tetap bergantung pada peran aktif guru, fasilitas perpustakaan sekolah, serta dukungan dari orang tua di rumah agar semangat literasi ini tidak meredup setelah masa KKN berakhir.

Menjawab harapan tersebut, tim KKN-T Literasi Gelombang 116 Universitas Hasanuddin optimistis bahwa benih yang ditanam hari ini dapat terus bertumbuh. Mereka berharap Aksi Literasi Berkarya dapat menjadi pemicu awal lahirnya budaya membaca yang kreatif, inovatif, dan berkelanjutan—tidak hanya di dinding-dinding kelas SDN 05 Tarowang, tetapi juga menyebar luas ke seluruh penjuru Desa Tino.