Pekerjaan P3A Tamalanrea di Desa Patani Disorot, Warga Pertanyakan Asas Manfaat dan Konektivitas Jaringan Irigasi

TAKALAR // Bongkarterkini24.com — Pekerjaan Program Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Tamalanrea di Desa Patani, Kecamatan Mappakasunggu, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang bersumber dari Balai pompengan Jeneberang menjadi sorotan setelah muncul dugaan pekerjaan tersebut belum memberikan asas manfaat yang jelas bagi masyarakat petani.

Berdasarkan pantauan awak media di lokasi pada Sabtu (8/8/2026), mutu pekerjaan di ragukan, belum ditemukan jaringan sekunder yang menghubungkan aliran dari hulu ke hilir maupun jaringan utama atau pintu air yang menjadi bagian penting dalam mendukung fungsi jaringan irigasi.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas pekerjaan yang menggunakan anggaran negara. Sebab, secara fungsi, keberadaan jaringan irigasi semestinya memiliki keterhubungan dengan sumber dan saluran distribusi air sehingga dapat menunjang kebutuhan pengairan lahan pertanian.

Jika jaringan yang dibangun tidak terkoneksi dengan jaringan utama maupun sumber air, masyarakat tentu berhak mempertanyakan sejauh mana manfaat pekerjaan tersebut terhadap aktivitas pertanian di wilayah setempat.

Salah seorang warga berinisial K saat dikonfirmasi awak media mengaku mempertanyakan manfaat pembangunan jaringan irigasi tersebut. “Jaringan irigasi di desa kami saya kira kurang ada asas manfaatnya. Tidak ada jaringan dari pintu air utama atau jaringan sekunder, sehingga kami menduga tidak ada asas manfaatnya bagi petani di desa kami,” ujarnya dengan nada kecewa.

Pernyataan warga tersebut menjadi salah satu masukan yang perlu mendapat perhatian dan klarifikasi dari pihak-pihak yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program.

Untuk menjaga keberimbangan pemberitaan, awak media telah berupaya meminta penjelasan kepada Ketua P3A Tamalanrea yang akrab disapa daeng Maro melalui pesan WhatsApp pada hari Sabtu sore pukul 17:35 WITA Namun, hingga berita ini ditulis, pada hari Minggu (9/8/2026) pesan yang dikirim belum mendapatkan balasan.

 Upaya konfirmasi juga dilakukan melalui sambungan telepon beberapa kali, tetapi belum mendapat respons. Sikap tersebut membuat sejumlah pertanyaan mengenai pelaksanaan dan manfaat pekerjaan belum memperoleh penjelasan dari pihak pengelola program.

Sorotan ini diharapkan menjadi perhatian pihak terkait, termasuk instansi teknis yang memiliki kewenangan melakukan pembinaan, pengawasan, maupun evaluasi terhadap program P3A.

 Publik tidak sedang mempersoalkan pembangunan irigasi semata, tetapi mempertanyakan apakah anggaran negara yang digelontorkan benar-benar menghasilkan infrastruktur yang berfungsi dan memberikan manfaat nyata bagi petani.

Jika memang pekerjaan telah sesuai perencanaan dan memiliki konektivitas jaringan yang memadai, pihak pelaksana tentu memiliki ruang untuk memberikan penjelasan dan menunjukkan kondisi teknisnya secara terbuka kepada masyarakat.

( Husaini Nappu)