LABUAN BAJO // Bongkarterkini24.com — Upaya menghidupkan kembali kesenian tradisional masyarakat kepulauan di Manggarai Barat mendapat ruang melalui kegiatan workshop dalam rangka Festival Pulau. Kegiatan yang digagas seniman Priscilian Denvisia Vebriosa atau akrab disapa Cici tersebut diarahkan untuk memperkenalkan sekaligus mendorong generasi muda agar kembali mempelajari dan melestarikan seni budaya yang berkembang di masyarakat pulau.
Kegiatan ini semula direncanakan berlangsung pada Februari 2026 dan dipusatkan di Pulau Longos. Namun, kondisi cuaca menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaannya. Hujan, angin kencang, serta gelombang laut yang cukup besar membuat agenda tersebut harus ditunda hingga Juli 2026 demi mempertimbangkan kondisi dan keamanan selama pelaksanaan kegiatan.
Sebelum kegiatan dilaksanakan, panitia juga melakukan observasi lapangan ke sejumlah wilayah pulau. Dalam proses tersebut, kondisi gelombang laut yang cukup kencang sempat menimbulkan kekhawatiran bagi tim. Setelah mempertimbangkan berbagai kondisi di lapangan, kegiatan akhirnya dilaksanakan pada Juli 2026 dengan tetap membawa semangat untuk mendekatkan seni tradisional kepada generasi muda.
Sejumlah kesenian tradisional menjadi bagian dari program tersebut. Di antaranya Tari Pamancak dari Bima dan Pamancak Sulawesi Selatan, serta berbagai kesenian Manggarai seperti Tiba Meka, Rangkuk Alu dan Caci. Selain itu, kesenian masyarakat Suku Bajo juga turut diangkat. Secara keseluruhan, workshop ini memberi ruang bagi empat kelompok etnis, yakni Bugis, Bima, Manggarai dan Bajo, untuk memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi masing-masing.
Keberagaman tersebut menjadi salah satu daya tarik Festival Pulau karena kesenian tidak hanya ditempatkan sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai bagian dari proses pengenalan budaya kepada generasi muda. Melalui workshop, peserta diharapkan dapat mengenal gerak, tradisi, nilai, dan latar budaya dari kesenian yang dipelajari sehingga keberadaannya tidak berhenti pada satu generasi.
Program ini merupakan bagian dari program Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan tahun 2025 yang pelaksanaannya dilakukan pada 2026. Dukungan program tersebut menjadi bagian dari upaya memberi ruang bagi pelaku seni untuk mengembangkan kegiatan kebudayaan berbasis masyarakat. Pelaksanaan kegiatan di wilayah kepulauan juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama terkait akses, cuaca, dan mobilitas antarpulau.
Priscilian Denvisia Vebriosa sendiri dikenal sebagai seniman yang aktif dalam geliat pengembangan seni di Labuan Bajo. Melalui Festival Pulau, ia berupaya mempertemukan keragaman seni dari sejumlah suku sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali warisan budaya di daerahnya.
Di tengah perkembangan pariwisata Labuan Bajo dan Manggarai Barat, keberlanjutan kesenian tradisional menjadi bagian penting agar kekayaan budaya masyarakat tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan diwariskan.
